Setelah melalui negosiasi panjang selama empat tahun dan melewati empat kepemimpinan perdana menteri, Inggris akhirnya menyepakati FTA dengan blok GCC. Negara Teluk yang terlibat meliputi Arab Saudi, Kuwait, Oman, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain.
Melansir laporan The Guardian, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyebut pencapaian ini sebagai kemenangan besar bagi sektor bisnis Inggris. Hasil akhir kesepakatan ini bahkan melonjak dua kali lipat dari perkiraan awal pemerintah.
Lewat kerja sama ini, tarif masuk untuk 93% komoditas barang ekspor Inggris ke kawasan Teluk akan dihapus sepenuhnya. Sektor yang diuntungkan meliputi industri otomotif mewah, pertanian, pertahanan, kedirgantaraan, peralatan medis, hingga manufaktur canggih.
Dukungan Kuat Sektor Pertanian dan Industri Jasa Pasca-Brexit
Serikat Petani Nasional (NFU) Inggris dan Wales menyambut hangat kerja sama ini sebagai kesepakatan dagang pasca-Brexit paling sukses. Tim negosiator Inggris dinilai berhasil melindungi standar sanitasi produk unggas dalam negeri dari intervensi luar.
Kamar Dagang Inggris (BCC) juga memproyeksikan dampak positif instan bagi puluhan ribu perusahaan anggotanya. FTA ini menjamin akses pasar yang stabil di Timur Tengah bagi sektor jasa kelolaan Inggris seperti finansial, energi, dan teknologi.
Selain pemotongan tarif dagang, regulasi data digital juga diperlonggar. Perusahaan asal Inggris kini diberikan kebebasan hukum untuk menyimpan data operasional mereka di luar wilayah Teluk secara aman.
Dampak Politik bagi PM Keir Starmer dan Posisi Strategis di G7
Pencapaian ini menjadikan Inggris sebagai negara anggota G7 pertama di dunia yang berhasil menandatangani perjanjian dagang bebas dengan blok GCC. Sentimen positif ini sekaligus memperkuat posisi tawar geopolitik London di mata global.
Secara domestik, keberhasilan ini memberikan napas lega bagi kabinet PM Keir Starmer setelah diterpa kekalahan dalam pemilu lokal teranyar. Ini menjadi tonggak perdagangan besar ketiga Starmer setelah sebelumnya sukses mengamankan kesepakatan dengan India dan Korea Selatan.
Bagi masyarakat dan pelaku usaha, stabilitas pasokan energi dan perluasan pasar ini diharapkan mampu menekan inflasi serta membuka ribuan lapangan kerja baru di sektor berorientasi ekspor.